AGPAII DAN GERAKAN KULTURAL KEAGAMAAN

Ayoguru.Com | Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Dr. H. Purwanto, M.Pd. berkesempatan hadir dan membuka kegiatan Workshop Pemanfaatan Kartu Tanda Anggota (KTA) AGPAII Digital dalam Pembelaharan dan Pengembangan Kompetensi Guru PAI. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan terhadap AGPAII sebagai wadah perjuangan guru PAI supaya mampu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas guru PAI dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, terlebih pada masa pandemi seperti sekarang ini. Rabu, (3/2).

Pada masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini beban guru dalam menlaksanakan tugas semakin berat dan menjadi sorotan publik, tidak jarang ada pandangan miring dari sebagian kalangan bahwa guru tidak bekerja. Sedikit kesalahan atau kekurangan tertangkap “kamera” maka akan menjadi bahan pemberitaan yang asyik untuk diperbincangkan bahkan sampai viral di media sosial. Karena itu, selaku Kadisdik Kabupaten Purwakarta beliau berharap semua guru dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Menurutnya, guru harus mendokumentasikan rekam jejak pembelajarannya dengan rapi, baik secara digital maupun dengan mempergunakan instrumen tertulis. Dokumentasi rekam jejak tersebut menjadi bukti bahwa guru telah melaksanakan tugas dengan baik, sehingga pada saat dibutuhkan guru dapat menunjukkannya.

Menyinggung soal eksistensi AGPAII dan PAI, Dr. H. Purwanto, M.Pd. menyampaikan beberapa hal menyangkut tata kelola Pendidikan saat ini. Beliau berpendapat bahwa telah terjadi dikotomi penyelenggaraan Pendidikan, ada Pendidikan umum dan ada Pendidikan agama. Padahal semestinya Pendidikan itu bersifat holistik, yaitu Pendidikan yang utuh dan menyeluruh. Hal ini didasari dengan asumsi bahwa semua anak berhak untuk mendapatkan layanan Pendidikan yang sama sesuai dengan kebutuhannya. Akan tetapi karena sudah menjadi kebijakan pemerintah pusat, seorang kepala dinas Pendidikan tidak mungkin menyalahi aturan yang telah digariskan, karena itu yang dapat dilakukan adalah gerakan kultural dalam tahapan implementasinya, anak-anak yang sekolah di SD mendapatkan layanan Pendidikan keagamaan seperti di MI, demikian pula dengan anak-anak SMP mendapatkan bimbingan agama sebagaimana halnya anak-anak MTs.

Untuk mendukung gerakan kultural Pendidikan keagamaan di sekolah, Pemerintah Kabupaten Purwakarta melalui Dinas Pendidikan mengangkat guru Agama Keagamaan dan Pengkajian Kitab-Kitab (AKPK). Bagi peserta didik yang beragama Islam dua kitab yang diharapkan untuk dipelajari, yaitu Kitab Tijan dan Safinah. Adapun bagi peserta didik selain agama Islam diharapkan dapat menyesuaikan dengan kitab sucinya masing-masing. Untuk menunjang keberhasilan gerakan tersebut, Kadisdik Kab. Purwakarta berharap terhadap peran atif Pengawas PAI sebagai bagian tak terpisahkan dari AGPAII Kab. Purwakarta untuk terus memantau keterlaksanaan program AKPK di sekolah. Pengawas PAI diharapkan dapat menyampaikan laporan secara berkala ke dinas Pendidikan sebagai bahan kajian dan penyempurnaan program selanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPD AGPAII Kabupaten Purwakarta, Hj. Lulu Makiyah, M.M.Pd. mengapresiasi atas kesedian Kepala Dinas Pendidikan yang berkenan hadir di Markas AGPAII Kab. Purwalarta, yaitu di Yayasan Daar El Ilmi yang beralamat di Jl. Pemuda II Pasawahan Purwakarta. Pada kesempatan tersebut, Ketua DPD AGPAII mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang telah mengalokasikan anggaran dan mengangkat guru AKPK. Guru AKPK pada saat ini diharapkan menjadi solusi atas kekurangan guru PAI, diketahui bahwa telah terjadi kekosongan guru PAI pada beberapa sekolah di Kabupaten Purwakarta.

Beliau juga mohon doa dan dukungan Kepala Dinas Kabupaten Purwakarta terhadap pengembangan Yayasan Daar El Ilmi, sebagaimana diketahui bahwa Ketua DPD AGPAII Kabupaten Purwakarta, selain sebagai Pengawas PAI, beliau juga sekaligus sebagai pemilik Yayasan. Menurutnya Yayasan Daar El Ilmi pada saat ini sudah memiliki Lembaga Pendidikan formal yaitu Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang secara struktural berada di bawah kewenangan Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta. Namun walaupun demikian kebijakan-kebijakan Dinas Pendidikan diterapkan di madrasah tersebut, salah satunya gerakan Tatanen di Bale Atikan, sehingga ada kelakar bahwa MI Daar El Ilmi itu MI serasa SD. (SepR)