[Dari Redaksi] Siswa Purwakarta “Go Global” : Seberapa Perlu?

Penandatangan MoU kerjasama pendidikan (sumber : istimewa)

ayoguru.com—Belum lama ini, Southeast Asian Minister of Education Organization (SEAMEO), organisasi pendidikan yang didirikan oleh para menteri pendidikan di region ASEAN sejak tahun 1965, sepakat bekerjasama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Purwakarta. Penandatanganan MoU dilakukan di kantor Disdik Purwakarta, kontan dengan kehadiran langsung dua pimpinan, baik dari SEAMEO maupun Disdik Purwakarta.

Dengan kerjasama ini, siswa akan dibentuk menjadi pribadi yang siap menjadi warga negara global (global citizenship). “Siap” yang berarti mawas dan tanggap terhadap permasalahan global. Ya, global! Cakrawala luas yang melampaui ke-lokal-an siswa itu sendiri.

Proses penandantanganan MoU Disdik Purwakarta dan SEAMEO Qitep in Sains (sumber : istimewa)


Dari pernyataan pimpinan SEAMEO, Dr. Indrawati, Disdik Purwakarta dipilih karena punya program pendidikan yang bagus, yaitu Tatanen di Bale Atikan (TDBA). Diketahui, program ini berbasis ekologi—dimana siswa diajarkan cara bertanam di sekolah dan di rumah dengan maksud agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Termasuk, siswa diajarkan pula cara mengurai masalah lingkungan terdekat, seperti misalnya sampah. Sampah diolah menjadi produk bernilai : bisa menjadi eco-brick, kompos atau eco-enzyme. Siswa dibekali wawasan dan keterampilan seputar hal itu. Misinya : sekurang-kurangnya mengurai sampah rumah tangga.

Program TDBA, singgung Dr. Indrawati, kontekstual dengan misi organisasi SEAMEO. Sebab, kesadaran ekologi adalah salahsatu isu sekaligus nilai penting dalam tata-dunia global hari ini. Dia menegaskan, “permasalahan global hari ini tidak hanya urusan kemiskinan, melainkan juga kerusakan lingkungan. Penting bagi warga global untuk punya wawasan ekologi, sehingga lingkungan bisa terjaga.”

TANGGAP GLOBALISASI : SEBERAPA PERLU?

Sadar globalisasi bukan perkara instan. Seseorang perlu disisipi wawasan sejak jauh-jauh hari. Lalu, perlu juga dibekali pelatihan karakter agar bisa menjadi (becoming) warga global. Dengan begitu, ia tidak hanya tahu, tetapi juga berperilaku.

Timbul pertanyaan : seberapa perlu siswa, lebih khusus di era ini, dibekali kesadaran global?

Sejak internet ditemukan dan batas dunia menjadi luntur, konsep “warga global” (global citizenship) adalah sesuatu yang sama sekali tidak ter-elakkan. Artinya, kita saat ini tidak hanya berstatus sebagai warga bagi negara tertentu saja. Tidak. Diwaktu yang sama, kita adalah warga global. Warga dunia.

Konsekuensinya : kesadaran global adalah suatu hal yang penting. Minus itu, kita tidak bisa menjadi warga global yang baik. Dan pada akhirnya, perilaku kita pula-lah yang akan mengancam kondisi dunia secara umum.

Ambil contoh, polusi industri yang menyebabkan perubahan iklim global. Tidakkah itu adalah contoh sempurna dari ketiadaan kesadaran global? Kerakusan seseorang atau korporasi pada akhirnya berdampak pada dunia secara umum. Iklim berubah drastis—yang dampaknya merugikan banyak orang (termasuk diri mereka sendiri : red).

Berbekal kesadaran global yang cukup, hal demikian sebetulnya dapat ditekan. Sebab, jelas adanya, dunia yang kita tempati adalah dunia yang juga ditinggali oleh orang lain. Sehingga, pada prinsipnya, agar dunia yang sama-sama ditinggali ini bisa lestari dan berkelanjutan (sustainable), perlu kesadaran bersama.

Menciptakan generasi sadar globalisasi, dengan begitu, adalah tugas bersama yang perlu tercapai. Karena, dari generasi inilah masa depan dunia akan ditentukan : lebih baik atau malah makin terpuruk?

Siswa Purwakarta akan segera “go-global”. Kabar yang terus terang menggembirakan. Tapi, semoga kerjasama pendidikan ini tidak hanya menjadi proyek ‘mercusuar’ saja. Sebatas ornamen basa-basi. Selesai di tingkat pencitraan. Semoga tidak.