Guru di Sukasari Terabas Sungai Deras dan Jalan Berlumpur Demi Pengabdian

Guru di Kecamatan Sukasari melewati sungai demi sampai ke sekolah.

Ayoguru.com—Mokhamad Arifin, Guru UPTD SMPN SATAP 2 Parungbanteng – Kec. Sukasari harus rela menempuh jarak 4 KM setiap hari demi menunaikan tugasnya. Waktu tempuh yang diperlukan paling sebentar 45 menit. Maklum, alam dan kontur jalan masih menjadi masalah besar untuk para guru yang bertugas disana.

tantangan keseharian guru di Kec. Sukasari, harus menerabas sungai (sumber : istimewa)

Kepada tim redaksi ayoguru, Rabu (03/02), ia mengatakan bahwa hal tersebut hanya sekelumit saja dari banyak permasalahan yang biasa ia hadapi dalam tugasnya sebagai seorang guru. Namun begitu, ia mengaku tidak akan menyerah dengan keadaan. Terlepas dari banyak tantangan yang dihadapi, para siswa tetap harus mendapatkan hak belajarnya.

“Jika hujan deras, maka perjalanan ke sekolah bisa lebih lama. Setiap hari kami mesti melewati sungai dan jika hujan maka air sungai tinggi dan deras. Ada resiko caah (banjir bandang : red) juga, sehingga kami harus senantiasa waspada,” katanya.

TANTANGAN BELAJAR DI RUMAH

Bagi kebanyakan guru, kebijakan belajar di rumah selama masa pandemi mungkin bukan kendala yang berarti. Tapi, tidak demikian halnya dengan guru-guru di Kecamatan Sukasari. Praktek kebijakan belajar di rumah diikuti dengan masalah teknis dan non-teknis yang sedikit banyak menganggu proses pembelajaran.

Diantaranya, kata Arifin, adalah keterbatasan sinyal telekomunikasi. Sementara, hal tersebut sangat dibutuhkan untuk proses belajar daring. Alhasil, seringkali proses pembelajaran terganggu.

kendala home visit guru sukasari (sumber : istimewa)

“Kita terkendala sinyal atau jaringan, karena tidak tersedianya tiang pemancar apapun di parungbanteng. Apalagi, kalau di musim hujan, sinyal bisa betul-betul tidak ada,” katanya.

Tidak putus asa dengan keadaan, solusi yang diambil Arifin dan guru-guru lainnnya adalah “home visit” (pertemuan di rumah : Red). Tapi, lagi-lagi, rintangan pun tak pelak menghadang. Ada beberapa rumah siswa yang cukup sulit untuk dijangkau karena kontur jalan.

“Agar tetap mendapatkan hak belajar, maka mau tidak mau kami harus home visit meskipun selalu ada saja situasi dimana rumah siswa sulit dijangkau karena problem kontur jalan,” ungkapnya.

BERHARAP BANTUAN PEMERINTAH

Atas segala situasi yang dirasakan selama ini, Arifin tetap menjaga asa besar kepada Pemerintah. Ia berharap pemerintah bisa menyelesaikan segala kendala yang ia rasakan dalam pengabdiannya hingga sekarang.

“Saya berharap pemerintah bisa lebih tanggap lagi terhadap kendala aksesibilitas jalan disini. Masalahnya tidak hanya dirasakan untuk konteks pendidikan saja, tapi banyak lagi. Gerak ekonomi dan sosial terbatas. Banyak lagi,” cetusnya.

Tidak hanya itu, ia pun berharap ada keberpihakan lebih dari Pemerintah untuk guru-guru di daerah sulit seperti dirinya dan sejawatnya di Kecamatan Sukasari.

“Kami berharap ada alokasi anggaran transportasi khusus, baik untuk non-PNS maupun PNS. Kemudian, semoga kami juga bisa difasilitasi kendaran bermotor yang sesuai dengan medan jalan, khususnya yang mengajar di desa parungbanteng,” katanya.

KEPALA DINAS PENDIDIKAN PURWAKARTA MERESPON

Di tempat terpisah, Rabu (03/02), tim redaksi ayoguru sekalian mewawancara Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Purwakarta, H. Purwanto. Dikonfirmasi seputar kendala pelayanan pendidikan di Kecamatan Sukasari, dia menegaskan bahwa pihaknya sangat mawas diri terhadap situasi disana. Menurutnya, pelan tapi pasti, setiap kendala yang ada disana diselesaikan sebaik-baiknya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, H. Purwanto

“Ya, pertama, kan, akses jalan sekarang sudah dibuka. Tinggal pengerasan dan perbaikan di beberapa titik. Bahkan, ada beberapa titik jalan yang sudah dibeton.
Kedua, kami sudah membuka sekolah-sekolah satu atap dan membuka unit sekolah baru SMPN 2 Sukasari untuk menjangkau kebutuhan ketersediaan sekolah yang aksesnya dekat dengan siswa. Sekaligus, kami juga menambah jumlah guru PNS di daerah tersebut,” katanya.

Terkait dukungan untuk kinerja guru-guru di daerah sulit seperti di Kecamatan Sukasari, Kadisdik Purwanto mengatakan bahwa sudah ada langkah-langkah nyata yang ditempuh pihaknya. Namun begitu, ia mengakui bahwa masih ada hal-hal lain yang sedang diperjuangkan pihaknya.

“PNS di daerah sulit diberikan tunjangan lebih dibanding daerah lain. Bahkan dari provinsi pun ada tunjangan daerah terpencil untuk guru SD. Tapi, kita memang masih punya PR untuk guru-guru SMP yang honorer. Mereka perlu mendapatkan perhatian karena tidak terbawa oleh bantuan provinsi. Tidak hanya itu, kami pun berusaha agar guru-guru yang bertugas di daerah sulit dan harus melewati kontur jalan yang susah agar bisa di fasilitasi kendaraan sejenis trail dan diberikan tunjangan khusus yg layak,” runutnya.

Dia tak luput mengapresiasi semangat para guru yang tak putus asa dalam menjalankan peran pengabdian.

“Terima kasih untuk semangat yang tak putus. Bagaimanapun, sesulit apapun, anak-anak kita tetap harus mendapatkan hak belajarnya,” demikian ucapnya. (Wid)