Kadisdik Purwakarta Ajak Warga Sekolah Jadi Pelopor Lingkungan

Ilustrasi Hari Peduli Sampah Nasional (sumber : google)

ayoguru.com—Sikapi hari sampah nasional, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Purwakarta, H. Purwanto ajak warga sekolah menjadi pelopor kepedulian lingkungan di lingkup terdekatnya masing-masing.

Ditemui di ruang kerjanya, Senin (22/02), Kadisdik Purwanto menuturkan bahwa hari sampah nasional seharusnya menjadi momentum peningkatan kepedulian terhadap lingkungan—minimal lingkup terdekat. Dan untuk itu, warga sekolah dapat berperan sebagai pelopor penggerak kepedulian lingkungan.

Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta, H. Purwanto (sumber : istimewa)


“Peningkatan kepedulian terhadap lingkungan dapat dipelopori oleh warga sekolah sebagai bagian dari masyarakat terdidik,” katanya.

UBAH SAMPAH JADI PRODUK BERNILAI

Ia mencontohkan sampah rumah tangga yang sebetulnya bisa diolah lebih lanjut sehingga menjadi produk bernilai. Selama ini, sampah tersebut dibiarkan saja tanpa pengolahan. Akibatnya, yang terjadi adalah tumpukan masalah yang kontras terlihat sehari-hari.

“60 persen tiap hari rumah kita menghasilkan sampah organik, biasanya kita hanya bisa memindahkan sampah ini dari rumah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah organik ini kemudian menimbulkan gas metana yang baunya luar biasa. Tak heran setiap ada tumpukan sampah akan ada aroma yang menyengat tidak sedap. Gas metana inilah yang menjadi sumber masalah karena bisa mencemari udara, tanah dan air,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa masalah tersebut kian kompleks seiring dengan perlakuan masyarakat terhadap sampah yang sulit berubah.

“Kita selama ini hanya bisa memindahkan sampah dari rumah ke TPA. Jadi, hanya pindah tempat dan pindah baunya. Padahal, tiap kita bisa secara bijak mengelola sampah dari dapur kita dengan cara memilahnya dan menjadikan sampah organik itu bermanfaat bagi kita dan lingkungan,” ujarnya.

Jika saja ada upaya yang lebih kreatif, imbuhnya, sampah tersebut sebetulnya bisa diolah lebih lanjut sehingga menjadi produk bernilai. Contohnya, misal menjadi tong komposer tanam dan cairan eco-enzyme.

“Kita bisa membuat tong komposter tanam, komposter portable membuat bananacircle dan bahkan membuat cairan ecoenzyme. Ini bisa kita lakukan dengan cara mendidik masyarakat kita dan membudayakan perilaku bijak dalam membuang sampah. Maka, saya mengajak semua sekolah dan guru-guru untuk menanamkan kebiasaan ini pada anak-anak didiknya agar mereka bisa menjadi pelopor dalam mengelola sampah di rumah dan di sekolahnya,” begitu urainya. (Wid)