PJJ Rentan “Learning Loss”, Kompetensi Lulusan Jadi Sorotan

Mahasiswa sedang melakukan pembelajaran daring (sumber : google)

ayoguru.com-Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang masih berlangsung hingga saat ini dinilai rentan resiko “learning loss” atau berkurangnya wawasan dan keterampilan secara akademis. Konsekuensinya, besar potensinya lulusan Perguruan Tinggi dari proses PJJ tidak memiliki kompetensi yang memadai.

Pernyataan tersebut disampaikan pakar pendidikan UGM, Prof. Dr. Budi Santoso Wignyosukarto di laman Kompas, belum lama ini. Menurutnya, ada perbedaan sangat signifikan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring (online).

Prof. Budi Santoso Wignyosukarto (tengah) dalam aktivitasnya sebagai pengamat pendidikan (sumber : UGM.ac.id)


Dia menjelaskan, proses pembelajaran tatap muka memiliki keunggulan ketimbang pembelajaran daring. Diantaranya, adalah punya waktu komunikasi intens dengan mahasiswa. Selain itu juga, ada waktu bagi mahasiswa melakukan kegiatan praktikum untuk memahami kenyataan suatu teori.

Hal demikian berbanding terbalik dengan pembelajaran daring. Sebab, semuanya dilakukan dengan media video dan komunikasi virtual.

“Kalau ketemu mahasiswa yang haus ilmu, akan dihasilkan produk yang relatif sama. Tapi kalau ketemu dengan mahasiswa yang hanya menginginkan ijazah, hasilnya jelas berbeda,” ucapnya.

JELI DALAM MEKANISME UJIAN

Agar bisa menjamin mutu lulusan, Prof. Budi menilai penting kejelian terhadap mekanisme ujian. Dia menegaskan, pola ujian jangan disamakan dengan kondisi sebelum pandemi. Sebab, ada celah kesalahan (fraud) penilaian yang sangat mungkin muncul.

“Metode pemberian ujian dengan cara sebelum pandemi tidak dapat serta merta diterapkan pada saat ini. Pasalnya mahasiswa bisa mengupload jawaban ujian yang sama dengan temannya yang pandai. Walaupun pengajar sudah membatasi waktu ujian daring,” ungkapnya.

Pihak kampus, sambungnya lagi, perlu berinovasi terhadap mekanisme ujian agar terhindar dari celah fraud tersebut.

“Jadi harus ada cara pembelajaran yang sesuai dengan pola pembelajaran daring ini. Kalau di Luar Negeri jumlah mahasiswa di kelas hanya 20-an. Mudah untuk membuat cara penilaian, karena dosen mempunyai waktu lebih banyak,” ujarnya seperti dikutip Kompas.

Bila ternyata inovasi cenderung minim, maka efeknya adalah terhadap lulusan itu sendiri. Andaikata pun para mahasiswa lulus dari kampus dengan predikat cumlaude, belum tentu nilai tersebut sepadan dengan kompetensinya.

“Selama PJJ ini jarang ditemukan mahasiswa yang mendapatkan nilai C. Dalam 2 tahun lagi mari kita lihat berapa jumlah wisudawan yang mendapat predikat cumlaude. Jika jumlahnya lebih banyak, hal tersebut belum tentu berarti sistem PJJ yang diterapkan saat ini berhasil,” begitu tukasnya. (Kmps/Wid)