Rekrutmen P3K 2021 : Harap Cemas Guru Honorer

Guru honorer saat kegiatan belajar mengajar (sumber : google)

Oleh : Dr. H. Purwanto, M.Pd.

Rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Tahun 2021 diagendakan dibuka di bulan Maret. Tidak lama lagi. Informasi sudah dilempar kemana-mana. Publik jelas tahu.

Telak, pasti ada dampak. Salahsatunya : harap cemas publik.

H. Purwanto (kanan) saat menanda-tangani MOU kerjasama pendidikan dengan SEAMEO Qitep in Sains (sumber : istimewa)

Ada yang berharap tinggi. Yaitu, para lulusan baru (fresh graduate) bidang kependidikan. Kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Ditambah, pekerjaan apalagi yang kadar ‘keamanan’ (safety) keuangannya lebih terjamin ketimbang bertaut ke pemerintah? Sebut saja, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau P3K? Rasa-rasanya tidak ada.

Masa depan cerah di depan mata. Pada saatnya nanti pendaftaran dibuka, tanpa ba-bi-bu panjang mereka pasti akan mendaftar. Dan tentu lebih bisa adaptasi. Sebab, kecanggihan teknologi sudah menjadi bagian dari keseharian. Apalagi hanya untuk sekedar daftar beginian. Mudah!

Di waktu yang sama, ada yang cemas tak kepalang. Yaitu, para guru honorer—terlebih yang kadung ngabdi bertahun-tahun lamanya. Rekrutmen P3K tak dipungkiri seperti ‘oase’ yang akan menghapus ‘dahaga’ kesejahteraan mereka selama ini. Namun, ada pertanyaan getir yang terselip di benak mereka. Kira-kira : “apa saya sanggup bersaing dengan anak-anak muda?”

Untuk urusan pengalaman ngajar, jelas para guru honorer diatas rata-rata. Bekerja berpuluh tahun untuk rutinitas yang sama, jelas membuat mereka menjadi ahli. Bahkan, super mahir.

Tapi, teknologi dan soal-soal ujian bisa jadi adalah hal baru bagi para guru ini. Malah, tak ayal adalah tantangan berat. Disatu ‘panggung’ kompetisi yang sama, pertarungan guru honorer dengan anak-anak muda lulusan perguruan tinggi dan punya sertifikat profesi guru ibarat laga David versus Goliath. Para guru honorer terang adalah David-nya. Dan perlu dicatat, di pertarungan kali ini belum tentu Tuhan berpihak.

KOMPETENSI YES, TAPI JANGAN LUPA APRESIASI

Alasan kompetensi dibalik penyelenggaraan rekrutmen P3K, buat saya pribadi, adalah hal yang sangat mulia. Kita bersama tentu ingin guru-guru yang kompeten. Bukan guru abal-abal yang ngasal. Tidak terbayang bukan bagaimana masa depan anak-anak kita jika ditangani oleh guru seperti itu?!

Tapi, saya kira, kompetensi bukan segalanya. Sebab, hal demikian bisa di-rekayasa dengan jalan pelatihan, seminar dan/atau pendekatan lain. Yang paling fundamental (mendasar : Red), menurut saya, adalah komitmen mengajar. Karena, tanpa komitmen yang kuat, seseorang belum tentu kuat bertahun-tahun berstatus sebagai guru.

Pada konteks itu, para guru honorer sudah membuktikan kapasitasnya. Komitmennya teguh. Terbukti, seberat apapun menjalani rutinitas kehidupan, mereka tetap kembali ke sekolah. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke puluhan tahun. Kurang apalagi?

Apabila ‘persembahan’ terbaik dari mereka itu tumbang hanya gara-gara ujian, saya tegas katakan bahwa ada ketidak-adilan disana. Bagaimana tidak?! Komitmen puluhan tahun ‘disapu’ tes dalam hitungan hari.

Hemat saya, ada sisi apresiasi yang perlu disematkan disana. Bahwa kerja mereka adalah bentuk pengabdian kepada negara. Dan dengan demikian, di tahun ini, sudah waktunya negara balik hadir untuk memberikan penghargaan bagi mereka.

Kenapa harus ada tes rekrutmen untuk sebuah komitmen yang sudah dibuktikan berpuluh-puluh tahun? Perlu bukti apalagi? Kenapa tidak memberikan mereka diskresi dalam bentuk afirmasi. Angkat menjadi P3K tanpa perlu tes!

“Diskresi” itu bukan berarti berlaku untuk semua. Tinggal cek berapa lama pengabdian si guru honorer. Berapa pula usianya? Katakanlah, untuk guru usia 35+ dengan masa pengabdian puluhan tahun, ya sudah afirmasi saja. Jangan beratkan mereka dengan beban ujian yang belum tentu bisa bersaing secara fair.

Sebagai bagian dari fungsi penyelenggara pendidikan, saya paham betul bagaimana eksistensi guru honorer. Mereka sangat membantu beban kerja para guru PNS. Karena mereka pula, penyelenggaraan pendidikan bisa berjalan dengan baik.

Saya berharap yang terbaik untuk rekab-rekan guru honorer. Semoga asa afirmasi bisa diterima oleh Pemerintah. Semoga.