Terima Bantuan Gawai, Dayat Berkaca-Kaca

ayoguru.com—Dayat, salah seorang guru kelas di SDN Sukamukti 3, Kec. Maniis – Kab. Purwakarta, tak sanggup menahan haru saat menerima bantuan gawai pintar (smartphone : red) dari Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Kamis (04/02). Matanya berkaca-kaca, tak menyangka mendapatkan perhatian lebih dari Disdik Purwakarta.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Purwakarta, H. Purwanto menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada Dayat. Bantuan disampaikan di sela agenda peninjauan langsung ke SDN Sukamukti 3 untuk memastikan berjalannya layanan pendidikan di masa pandemi.

Dayat (kanan), guru SDN Sukamungkti 3 menerima bantuan gawai pintar yang diserahkan langsung oleh Kadisdik Purwakarta, H. Purwanto (sumber : istimewa)

“Semoga bantuan kecil dari kami ini bisa mendukung kinerja bapak dalam memberikan layanan pendidikan terbaik kepada para siswa,” ungkapnya.

KENDALA PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Keputusan pemberian bantuan kepada Dayat bukan tanpa alasan. Dia adalah guru senior di SDN Sukamukti 3 yang menangani dua kelas sekaligus, yaitu kelas II dan tugas perbantuan di kelas I. Kontribusinya sangat signifikan untuk sekolah, sehingga dinilai perlu untuk diberikan perhatian lebih oleh Disdik Purwakarta.

Dari informasi yang diperoleh Disdik Purwakarta, kata Kadisdik Purwanto, Dayat terkendala sarana teknis untuk kebutuhan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Diantaranya adalah gawai pintar yang padahal sangat penting di situasi seperti saat ini, lebih khusus untuk berkomunikasi dengan orang tua murid, sejawat di sekolah dan pengawas.

Kadisdik Purwanto berfoto bersama dengan jajaran SDN Sukamukti 3 (sumber : istimewa)

“Ya. Kami menerima informasi itu. Pak Dayat terkendala sarana teknis seperti smartphone. Padahal, sarana itu diperlukan sekali untuk mendukung komunikasi dan kebutuhan pembelajaran jarak jauh. Karena itu, kami memutuskan memberikan bantuan smartphone untuk beliau,” cetusnya kepada ayoguru di sela kegiatan.

SEMPAT VIRAL KARENA BERITA

Dayat sempat viral karena pemberitaan media massa lokal, beberapa waktu ke belakang. Disebutkan, ia tidak menunaikan kewajiban seorang guru sebagaimana mestinya. Yaitu, tidak hadir untuk sesi kunjungan rumah (home visit : red). Bahkan, ‘mogok kerja’ alias absen ke sekolah selama setahun lebih.

Kepada ayoguru, Kamis (04/02), ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Sebaliknya, meskipun dengan segala keterbatasan, ia tetap semaksimal mungkin memberikan pelayanan pendidikan kepada para siswa.

Siswa SDN Sukamukti 3 yang hadir pada saat agenda peninjauan langsung Disdik Purwakarta. Bercerita soal pengalaman belajar di masa pandemi (sumber : istimewa)

“Kegiatan pembelajaran saya dokumentasikan sebagai bukti dan bisa dicek. Sebisa mungkin saya memberikan layanan terbaik untuk para siswa meskipun banyak keterbatasan yang dihadapi,” katanya.

Dayat merunut kendala yang ia hadapi si masa pandemi. Diantaranya adalah keterbatasan perangkat pembelajaran jarak jauh. Kebanyakan siswa tidak memiliki gawai pintar untuk belajar daring. Sehingga, jelas PJJ tidak bisa terselenggara.

“Kebanyakan siswa berasal dari ekonomi menengah ke bawah, sehingga tidak memiliki gawai pintar. Ini jelas sangat mengganggu penyelenggaraan PJJ,” ungkapnya.

Untuk mengatasi situasi tersebut, maka solusinya adalah kunjungan ke rumah (home visit). Lagi-lagi, ada kendala yang harus ia hadapi, mulai dari urusan jarak tempuh hingga situasi yang memaksa siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran.

“Untuk teknis pembelajaran di rumah, bagi kelas dua misalnya, saya bagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing 5 atau 6 orang. Dalam seminggu kami melakukan satu atau dua pertemuan tergantung kondisi. Seringkali, ada situasi yang memaksa siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran, karena mereka dibawa orang tuanya bercocok tanam ke sawah. Rata-rata keluarga di daerah sekitar sini berprofesi sebagai petani,” runutnya.

Hal-hal demikian, sambungnya lagi, tidak banyak diketahui oleh orang diluar lingkungan sekolah. Sehingga, mestinya dilakukan pengamatan yang jauh lebih mendalam sebelum mengambil kesimpulan.

“Jadi, ya begitu kondisi disini dengan segala keterbatasannya. Jangan disamakan dengan daerah lain, karena pasti beda situasinya. Kalau bisa, lakukan pengamatan yang lebih mendalam sebelum mengambil kesimpulan,” katanya.

Meski begitu, ia tetap menerima pemberitaan tentang dirinya dengan lapang dada. Paling tidak, sambungnya, hal tersebut menjadi pengingat untuk dirinya agar lebih baik lagi.

“Saya anggap pemberitaan itu sebagai masukan kepada diri saya agar bisa memberikan pelayanan pendidikan yang jauh lebih baik lagi,” demikian pungkasnya. (Wid)