Tips Menepis Hoax : Sains!

Ilustrasi sains (sumber : pinterest)

Oleh : Dr. Purwanto, M.Pd

(Penulis adalah Praktisi Pendidikan Sekaligus Ketua PGRI Kabupaten Purwakarta)

Berdasarkan pemeringkatan PISA (Programme Of International Study Assesment), nilai rerata sains siswa Indonesia terbilang rendah. Dari 82 negara yang diteliti pada tahun 2018, Indonesia menempati urutan ke-9 dari bawah. Hal yang dalam perspektif tertentu boleh dikata “problematis”.

Kenapa “problematis”? Begini. Belum lama ini, saya bersua dan sempat ngobrol-ngobrol santai juga dengan Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik & Tenaga Kependidikan – Ilmu Pengetahuan Alam (P4TK IPA), Enang Ahmadi. Ada ulasan menarik dari beliau. Yaitu, bahwa kompetensi sains mempengaruhi cara berpikir seseorang.

Dr. Purwanto (paling kiri, baju putih) saat penanda-tanganan MoU dengan P4TK-IPA belum lama ini (sumber : istimewa)

“Jika kompetensi dan minat seseorang terhadap sains cenderung tinggi, maka semakin logis juga penalarannya. Begitu pun sebaliknya. Semakin rendah kompetensi dan minat terhadap sains, maka semakin rendah aspek logis pada penalarannya,” ungkapnya kepada saya sambil coffee break.

Dia melanjutkan, urusan penalaran seseorang bukan perkara ‘kaleng-kaleng’. Pada tingkat tertentu, kapasitas penalaran akan berdampak pada kehidupan luas. Bahkan, sebut saja, hingga lingkup bangsa dan negara.

Ambil contoh kasus : hoax. Informasi bohong. Kang Enang bilang, orang dengan kapasitas penalaran logis rendah cenderung sangat rentan terpapar hoax.

Nah, masalahnya akan tidak seberapa berarti jika urusan hoax tersebut selesai pada diri pribadinya saja. Tapi, bagaimana jika hoax tersebut ia sebar kemana-mana? Ditambah, pihak yang menerima kiriman informasi hoax—ambil kata—ternyata memiliki kapasitas penalaran logis yang sama rendahnya. Tentu masalahnya jadi kompleks. Rumit.

Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir cerita-nya. Konflik sangat mungkin terjadi. Masalahnya, kita tidak bisa memprediksi seberapa luas dan dalam konflik itu sendiri? Sebab, tergantung pada respon seseorang terhadap informasi hoax yang diterimanya : apakah sebatas menjadi wacana saja atau menggerakkannya untuk melakukan sesuatu?

MENCETAK PRIBADI SAINTIFIK

Dari studi kasus tersebut, maka mencetak pribadi saintifik (tanggap sains : pen) adalah pekerjaan rumah (PR) yang menjadi tanggung jawab bersama.

Betul bahwa sekolah punya kontribusi dalam membentuk kompetensi sains seseorang. Namun begitu, rasa-rasanya tidak akan maksimal jika misi tersebut hanya dibebankan kepada sekolah saja.

Sebab, jelas ada banyak sekali keterbatasan. Diantaranya, toh interaksi siswa di sekolah lebih sebentar dibandingkan dengan interaksi di rumah dan/atau lingkungan sekitarnya.  Tanpa dukungan dari orang tua siswa dan lingkaran pergaulan di sekitar siswa, akan sangat sulit untuk ‘mematenkan’ mental saintifik pada diri siswa.

Sedikit banyak, orang tua misalnya, harus punya andil terhadap anaknya dalam hal ini. Orang tua perlu menstimulasi anaknya agar tanggap terhadap sains. Sekurang-kurangnya, mengajarkan anak agar gemar membaca. Karena dengan membaca, anak akan terbiasa untuk mencerna sesuatu dengan terlebih dahulu didasari referensi. Bukankah hal tersebut adalah salahsatu ’pilar’ dari pribadi saintifik?

Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta pada prinsipnya punya rasa greget yang sama. Ada tekad kuat untuk meningkatkan kompetensi dan minat siswa terhadap sains, lebih khusus di Kabupaten Purwakarta.

“Science Camp” adalah salahsatu bentuk komitmen Disdik Purwakarta terhadap pengembangan sains di Kabupaten Purwakarta. Seiring dengan kebutuhan sekaligus kemanfaatan sains, kami berkomitmen menjadi event ini rutin dan berkesinambungan dari tahun ke tahun.

Jelas, masih banyak sekali kekurangan. Namun, kekurangan ini pulalah yang—katakanlah—menjadi ‘rahmat’. Yaitu, ‘spasi’ kosong yang bisa diisi dengan kontribusi banyak orang. Bisa siapapun : praktisi, mahasiswa, orang tua siswa. Intinya publik yang peduli masa depan sains.

Meski bisa jadi klise, saya tetap ingin ngajak anda semua. Ayo berperan bersama. Jangan sampai ke depan anak-anak kita tambah parah kompetensi dan minatnya terhadap sains. Kalau sampai terjadi : ngeri!