UNICEF : Disrupsi Pendidikan Ancam Masa Depan Anak

Pemerintah telah mengupayakan pembelajaran tatap muka (sumber : Republika)

ayoguru.com—Pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya disrupsi alias perubahan besar-besaran terhadap wajah pendidikan. Lebih dari setahun lamanya, para siswa tidak terlibat pembelajaran tatap muka. Diganti dengan model pembelajaran jarak jauh yang memuat banyak tantangan.

Dikutip dari Kompas, UNICEF melaporkan bahwa kebijakan penutupan sekolah sejak 11 maret 2020 hingga 2 februari 2021 telah diterapkan di lebih dari 200 negara di dunia. Dampaknya, 168 juta anak dari jenjang pra-sekolah dasar hingga menengah atas di seluruh dunia terpaksa harus belajar dari rumah.

DAMPAK DISRUPSI TERHADAP SISWA

Disrupsi yang terjadi akibat pandemi berdampak luas terhadap diri siswa. Terlebih, kepada para siswa yang cenderung memiliki keterbatasan akses belajar dari rumah. Ketiadaan gawai pintar (smartphone) untuk belajar daring (online) menyebabkan terganggunya proses belajar mengajar. Sementara, pembelajaran melalui televisi dan radio dinilai tidak efektif karena hanya berlaku satu arah.

UNICEF menyebutkan, Bank Dunia telah menaksir kerugian para siswa di masa depan akibat keterbatasan akses pembelajaran. Diperkirakan, penutupan sekolah secara global dapat mengakibatkan hilangnya setidaknya 10 triliun dollar AS dari pendapatan seumur hidup untuk generasi ini.

Kasus lain yang juga menjadi catatan UNICEF terkait disrupsi akibat pandemu adalah peningkatan jumlah pernikahan dini dan kekerasan seksual. Tidak hanya itu, penutupan sekolah juga berdampak pada peningkatan jumlah anak yang dilibatkan pada pekerjaan rumah tangga.

“Di Indonesia sendiri, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dalam catahu mencatat adanya peningkatan pernikahan anak sepanjang 2020 sampai 3 kali lipat. Pada 2019 terdapat 23.126 kasus pernikahan anak, kemudian pada 2020 jumlahnya naik sebesar 64.211 kasus,” urai sumber Komnas Perempuan yang dikutip Kompas.

Diketahui, situasi krisis pandemi di Indonesia masih terjadi hingga saat ini. Meski begitu, Pemerintah telah mengupayakan pembukaan sekolah secara terbatas untuk kegiatan belajar tatap muka. Kebijakan tersebut diberlakukan untuk sekolah-sekolah yang telah memenuhi syarat aman untuk penyelenggaraan belajar langsung tatap muka. (Kmps/Wid)